Membangun Rumah Dengan Lahan yang Sempit


Sudah punya rumah tapi dengan lahan yang sempit, apalagi rumah yang berada di  kompleks Perumnas dengan tipe 36 atau 45? Itu yang kami alami. Alhamdulillah, sejak 2011 lalu, keluarga kecil kami tidak perlu lagi pindah-pindah rumah. Ya, akhirnya kami bisa punya rumah sendiri, setelah tiga tahun hidup mengontrak. Rumah yang kami beli berada di kompleks Perumnas di sebuah kampung di Aceh Besar. Rumahnya agak kecil karena hanya ada dua kamar dan ruang tamu doang, serta satu kamar mandi. Meski rumah mungil, dan dengan lahan yang juga ‘mungil’, kami tetap mensyukurinya. Inilah istana kami saat ini. Dan kami akan membuatnya menjadi istana yang indah, jika kelak kami punya rejeki. Aamiin. 
Rumah yang kami beli adalah tipe 36 dengan memiliki lahan sisa 11 x 4 meter di bagian belakang dan 6 x 4 meter di bagian samping. 
Beginilah bentuk rumah saat kami beli :D
Sejak membelinya kurang lebih dua tahun lalu, kami sudah berencana untuk merehabnya menjadi rumah yang lebih layak huni. Rumah di atas, dengan hanya baru berdinding batako yang belum terplester, dengan belum adanya plafon, tanpa dapur, sempat kami tempati selama setahun. Alhamdulillah di tahun berikutnya kami punya sedikit rejeki untuk memulai merehab rumah tersebut, meski sampai saat ini kami belum bisa menyelesaikannya hingga benar-benar selesai.
Dan, see? Bisa dibayangkan bagaimana pusingnya kami ketika berencana memulai merehabnya? Untungnya suami saya ahli dalam bidang ini. Suami saya memberi usul agar merombak rumah mungil kami dengan konsep yang berbeda dengan yang apa telah dilakukan beberapa tetangga kami yang telah duluan merehab rumah mereka.
Tips membangun rumah yang diusulkan suami saya adalah membangun rumah dengan meninggikan pondasi dibanding pondasi dasar (pondasi bawaan awal rumah) dan meninggikan dinding rumah lebih tinggi dari rumah asli. Hasilnya, lihat deh dan bandingkan dengan rumah di sebelah rumah kami, yang berbentuk sama dengan bentuk rumah kami sebelumnya. 
 
Jreeeeng.... berubah! :D
Tampak lebih tinggi dari rumah tetangga samping :D Mohon maaf jika perbandingannya dengan rumah yang belum direhab sama sekali. Tapi, ketinggian rumah kami ini nyaris setara dengan tinggi rumah tetangga depan yang berlantai dua. Padahal rumah kami hanya berlantai satu.
Jadi, saat teman-teman bahkan tetangga kompleks melihat rumah kami yang belum benar-benar selesai ini, mereka rata-rata bilang kayak gini; “Wah, bangun rumah gede amat, ya!”
“Lha, gede gimana bu? Ini rumah-rumah kita sama lho buk, dilihat secara bentuk dan tipe awal rumah.” Aslinya, rumah kami bukan menjadi sangat gede, tapi lebih tinggi. Memang kami melakukan pelebaran dari bentuk awal, tapi ya nggak lebar-lebar amat. Kami hanya melakukan pelebaran ke kiri satu meter (memang sisa lahanyya segitu) dan ke depan kalo tidak salah 80 cm. Risikonya, sekarang kami tidak punya lahan di samping dan halaman yang hanya tinggal satu meter saja, hahaa..
Jadi, tinggi rumah kami sekarang adalah 4 meter dihitung dari lantai yang belum terkeramik, dari sebelumnya dengan tinggi hanya 2,8 meter. Rerata tinggi rumah Perumans ya segitu. Apalagi kalo Perumnas sederhana banget seperti bentuk awal rumah kami, tingginya tidak akan lebih dari 3 meter. 
Menurut suami saya, rumah dengan pondasi yang tinggi dan dindingyang tinggi, akan membuat rumah terlihat lebih besar dan lebih ‘wah’ dibandingkan dengan rumah dengan ukuran yang sama tapi memiliki pondasi yang rendah dan tinggi rumah yang juga rendah (menurut suami saya, jarak antara lantai dan plafon yang hanya 2,8 meter seperti umumnya Perumnas, itu termasuk rendah). Itulah sebabnya mengapa rumah kami terlihat lebih besar, padahal pelebarannya tak lebar-lebar amat.
Pondasi setelah rehab, setengah meter lebih tinggi dari pondasi awal
Pelebaran bagian depan, mengambil hampir satu meter jatah lahan di halaman untuk memperluas kamar ke arah depan. Bagian ini adalah kamar utama (kamar saya dan suami). Karena pelebaran ke depan dan samping, kamar yang mulanya 3x4 meter, menjadi 4x5 meter. Sekarang, halaman kami hanya satu meter saja
Pelebaran bagian samping kiri, membangun di batas akhir tanah dengan rumah sebelah. Intinya, lahan kami di bagian samping ini habis total. Itu lahan yang kosong adalah milik rumah tetangga. Nah, karena kami mengambil as tanah, jadi jika suatu saat rumah tetangga kiri kami ini ingin merehab rumah, mereka boleh melanjutkan saja dari dinding rumah kami tersebut. Karena memang begitulah aturannya. Sebaliknya, jika tidak ingin dinding kita dipakai tetangga, maka jangan ambil as untuk membangun rumah.
Dengan cara tersebut, sekarang kami hanya memiliki halaman depan yang mini dan sisi kiri rumah yang tak lagi bersisa. Menurut suami saya, ini adalah upaya terakhir untuk berinovasi dengan rumah yang memiliki lahan sempit seperti rumah kami. Kamar kami sekarang terlihat lebih luas bukan hanya karena adanya pemajuan dan pelabaran batas rumah, namun juga karena lebih tinggi. Bayangkan saja, dari tinggi 2,8 meter dari lantai ke plafon, sekarang menjadi 4 meter. Tidur di kamar yang berasa luas begini, serasa sedang tidur di bawah langit. Xixixiii..lebay, ya, saya. Dan tahu tidak, efek lain dari rumah yang tinggi begini? Yaitu suhu kamar terasa lebih adem dibanding sebelumnya. Dulu, kalau tidur siang-siang di kamar, kami mesti menghidupkan kipas angin sekencang-kencangnya. Maklum, belum punya AC :D Tapi sekarang, bahkan kami bisa tidur siang tanpa menghidupkan kipas angin dan tanpa membuka jendela. Inilah keuntungan punya rumah tinggi; terlihat lebih luas dan lebih besar, serta lebih adem ternyata.
Tak hanya kamar, ruang tamu juga mengalami pelebaran ke depan, dimajukan sekitar 50 cm. Ini usulan saya ke suami sebenarnya, mengingat ruang tamu perumahan di Perumnas ini sempit sekali. Jadi kalau bikin pengajian atau kenduri kecil-kecilan, gak sempit-sempitan. Udah pengalaman banget sempit-sempitan ini pas bikin pengajian di kompleks.
Ohya, dengan rumah setinggi itu, otomatis rumah kami memiliki sisa ruangan yang cukup tinggi di atas plafon. Suami saya memiliki rencana untuk memberdayakan ruangan tersebut sebagai lantai dua dengan dasar dari kayu. Jadi di ruang sisa yang terdapat di loteng ini, bisa kami jadikan sebagai kamar tamu dan ruang baca. Yihaaa…kayaknya bakal keren deh ruang baca di atas loteng  ini :D
Untuk sementara, ini penampakan akhir. Belum benar-benar selesai, brenti duluuu, si Ayah mau nyangkul lagi, ngumpulin pundi-pundi lagi :D Btw, ini penampakan ruang tamu yang dilebarkan tadi. Lihat batako dan lihat bata. Yang ada batakonya, itu adalah bawaan dari rumah lama. Jauh sekali efek peniggiannya, kan? Intinya, kita tidak merobohkan, tapi tinggal melebarkan ke depan dan meninggikan ke atas. Dan lihat bagian paling atas setelah batas untuk plafon, itu atasnya masih tinggi lho. Jadinya kayak loteng. Ini yang tadi saya bilang inginnya memberdayakan loteng ini, jadi ruang tamu atau ruang baca. Tapi belum punya gambaran utuh, nantinya akan diapakan biar layak menjadi sebuah ruang.
Lahan paling belakang seluas 11 x 4 meter sudah kami bangun juga, bersamaan dengan bagian depan. Di lahan sisa seluas itu, terdapat sebuah calon kamar untuk putra kami yang kini berusia empat tahun (ukuran kamarnya 4 x 4), sebuah ruang makan, sebuah kamar mandi serta dapur. Sebenarnya, saya menyukai dapur yang luas dan lebar, supaya saya bisa berkreasi dengan puas di tempat yang disebut sebagai pusatnya rumah ini. Tapi, yang ada hanya dapur yang berukuran hanya 2,5 x 4 meter, bolehlaaaah. Dapur sekecil itu tetap terlihat luas kok dengan rumah yang tinggi.  
Sisa lahan paling belakang 4x11 meter juga sudah dibangun. Bagian paling kiri akan jadi dapur, tengah ruang makan, dan di kanan dibuatin kamar untuk putra kami. Saat membangun ini, kami juga mengambil as tanah.
Salah satu bagian paling belakang di bagian kanannya, yaitu kamar untuk putra kami. Jika di atas adalah penampakan dari belakang, ini penampakan dari depan.
Sementara itu, lahan di samping kanan berukuran 6 x 4 meter (lahan yang di depan penampakan kamar di atas), belum kami apa-apakan. Masih kosong. Pasti sudah tahu kan ya, tempat itu cocoknya untuk apa? Yup, untuk garasi. Kalaupun belum punya mobil, setidaknya bisa dipakai untuk naruh motor saya dan suami saya.
Berkaitan dengan rencana membangun untuk lahan yang masih kosong ini, selain dibuat sebagai garasi, kami berencana membuatnya menjadi dua lantai. Saat ini, kami baru punya dua kamar, dan rencana satu kamar lagi di bagian loteng (untuk kamar tamu), meski demikian tetap kami rasakan kami membutuhkan satu kamar lagi. Kelak jika Tuhan memberi kami anak lagi, itu adalah kamar buat dia :D  Semoga Tuhan memudahkan semuanya. Aamiin.
***
Membangun rumah dengan lahan yang sempit, yang dasarnya telah berdiri sebuah rumah yang sempit pula, memang susah-susah gampang. Maka inilah cara mensiasatinya.
Pertama, punya ide yang matang tentang konsep rumah seperti apa yang ingin/akan dibangun/direhab.
Kedua, tentukan apakah akan melanjutkan membangun dari rumah yang sudah ada atau merobohkan yang lama kemudian membangun yang baru.
Ketiga, jangan berharap memiliki ruangan-ruangan yang besar layaknya hall, jangan terlalu berharap punya dapur yang terlalu luas, tapi berkreasilah dengan ruangan minimalis namun berfungsi maksimalis.
Keempat, lebih baik membangun rumah ke atas (lantai dua atau lebih) daripada berharap punya ruang lebih ke samping.
Kelima, tidak ada salahnya membangun rumah seperti rumah kami, yaitu rumah yang tinggi meski itu hanya baru lantai satu, hahaa…
Semoga tips membangun rumah dari saya dan suami, berguna bagi pembaca. Jika kalian ingin tahu lebih banyak tentang bagaimana berinovasi dengan rumah yang mungil yang memiliki lahan yang sempit, kalian boleh juga baca-baca tips dari http://blog.rumah123.com/category/tips, apalagi di link tersebut ternyata ada tips membangun ‘Rumah Mungil’ yang bisa jadi cocok buat pasangan yang baru menikah dan baru memiliki rumah ;)
Selamat berkreasi dengan rumah mungil Anda!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Previous
Next Post »

9 comments

Write comments
Ika Koentjoro
AUTHOR
19 Oktober 2013 09.57 delete

Temanku rumahnya luas tanahnya total 100 m2 cuman rasanya lapang. Bangunan diperhitungkan sedemikian rupa, trus kuncinya emang di ketinggian bangunan

Reply
avatar
Khaira Hisan
AUTHOR
19 Oktober 2013 10.22 delete

kayaknya rombak total ya kak?
haha.. si Khaira belom ngerti yang beginian

Reply
avatar
19 Oktober 2013 16.02 delete

mbak Ika Koencoro:
Iya betul mbak, rumah dengan ketinggian di atas rata-rata, akan membuat rumah terlihat lebih luas

Khaira:
Gak total-total amat sih khaira, cuma melebarkan dan meninggikan, xixixi....

Reply
avatar
DERIS AFRIANI
AUTHOR
21 Oktober 2013 00.09 delete

Foto yang terakhir kasih inspirasi bgt kak. Tadinya bingung mau bangun dinding gitu. Merubah dg menghancurkan dinding lama sayang. Ditambah aja kaya kk itu yah. dengan pondasi tambahan dan yg lebih kuat serta cor melintang diatas. Sip deh..

Reply
avatar
23 Oktober 2013 16.54 delete

Iyaaa deris, cukup gitu aja caranya, gak perlu dihancurin dan balik ke awal lagi. Selain gak hemat waktu, juga boros dana. kalo gini, kan bisa hemat banyak :D
Semoga postingan ini bermanfaat yaaaa ;)

Reply
avatar
acc soleh
AUTHOR
3 Juni 2014 15.46 delete

Menarik, jadi nambah ilmu nih.
Izin berbagi artikel arsitektur rumah ya.
Tentang Tips Cara Membuat Rumah Kayu, siapa tahu bisa bermanfaat.
Terima kasih

Reply
avatar
rina
AUTHOR
4 Maret 2015 13.51 delete

tanah 90 bisa bikin 3 kamar gak?

Reply
avatar
4 Maret 2015 16.36 delete

kalo 90 ingin kamar 3, kayaknya kamarnya kekecilan mbak, kecuali kalo ada rencana bikin rumah dua lantai, jadi dua kamar di bawah dan satu kamar di lantai 2 :D

Reply
avatar

My Instgram