Ketika Sistem CAT BKN Dipuji Dunia



Kita baru saja melewati salah satu momen penting nggak penting di negeri ini. Momen penuh drama yang diawali dengan euforia, tetapi berakhir dengan banyak orang yang pulang dengan tangan hampa. Momen tersebut tak lain dan tak bukan adalah seleksi CPNS 2018. Dengan diikuti oleh lebih kurang empat juta peserta dari seluruh Indonesia di berbagai instansi dan berbagai formasi, ini membuktikan bahwa menjadi PNS masih menjadi pekerjaan idola kaum milenial. Termasuk  teman-teman sekantor saya yang berstatus non-PNS (seperti saya, uhuk), kenalan, dan bahkan adik saya juga ikut PNS tahun ini. Mungkin belum rezekinya di PNS, kebetulan semua teman dan kenalan dan kerabat tidak ada yang lulus. Penyebabnya tentu saja karena tidak memenuhi nilai passing grade sesuai yang diminta, padahal saya tahu sebagian dari mereka sudah berusaha mati-matian dan habis-habisan. Mulai dari belajar secara otodidak dari buku-buku, video-video, bahkan ada yang sampai mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk membayar tutor untuk belajar secara privat. Wow!

Walau ada yang melemparkan kritikan karena menilai passing grade score yang dianggap terlalu tinggi sehingga banyak pelamar yang tidak lulus, tetapi di sisi lain, saya pribadi sangat mengapresiasi cara kerja CAT (Computer Assisted test). Hal ini pernah saya bincangkan dengan suami saya usai melihat cara kerja perekrutan CPNS kali ini. Maklum, ketika pertama kali CAT dipakai saat perekrutan CPNS tahun 2014, saya sedang tidak di Indonesia. Apa saja? CAT membuat sistem rekrutmen CPNS berjalan lebih transparan, adil, dan akuntabel. Adik saya misalnya. Dia adalah seorang guru honorer di Pulau Simeulu Aceh, mengajar mata ajar Kimia di sebuah sekolah negeri. Karena sudah lama tinggal dan menikah dengan orang Simeulu, tentu saja pilihannya menjadi CPNS adalah di sebuah sekolah di Simeulu juga. Usai mendaftarkan diri dan melewati tahap untuk mengikuti tes CPNS, adik saya langsung mengetahui berapa orang sainganya untuk jatah satu orang guru di sekolah sasaran. Demikian juga ketika selesai mengikuti tes, hasil CAT langsung menyatakan dia tidak lulus karena nilai TKP yang sedikit lagi tidak mencukupi. Tentu saja dia sedih karena cita-citanya adalah menjadi guru PNS. Tetapi di sisi lain, hatinya menjadi sedikit terhibur karena saingannya di sekolah sasaran juga tak satupun ada yang lulus. Hahaha. Terhibur karena nilai TKP-nya enggak jelek-jelek amat. Jika dilakukan perangkingan, besar kemungkinan dia akan lulus.


Melihat pengalaman pelamar CPNS tahun ini, saya jadi teringat akan pengalaman ketika di tahun-tahun lalu pernah mengikuti tes CPNS juga. Tetapi tahulah bagaimana sistem di zaman dahulu kala itu. Sangat sarat dengan KKN dan ketika itu kami menunggu pengumuman kelulusan dalam waktu lama.

CAT bukan istilah baru lagi di kalangan pelamar CPNS saat ini. Hasilnya yang jujur apa adanya meskipun itu terasa menyakitkan karena tidak lulus, lol (coret), kabar baiknya, transparansi CAT menuai pujian dari dunia internasional.  Oktober lalu, Bank Dunia merilis "Global Report: Public Sector Performance" dengan salah satunya menobatkan CAT sebagai produk unggulan Indonesia kategori Civil Service Management yang berhasil mereformasi kualitas sistem rekrutmen CPNS di Indonesia.

In Indonesia, the Civil Service Agency (BKN) succeeded in introducing a computer-assisted testing system (CAT) to disrupt the previously long-standing manual testing system that created rampant opportunities for corruption in civil service recruitment by line ministry officials. Now the database of questions is tightly controlled, and the results are posted in real time outside the testing center. Since its launch in 2013, CAT has become the defacto standard for more than 62 ministries and agencies."
– Kutipan summary report Bank Dunia

Menurut Edwin Ariadharma, Perwakilan World Bank Indonesia, terpilihnya  CAT BKN mewakili Indonesia, selain karena kepercayaan publik atas transparansinya, CAT juga dinilai sudah memenuhi unsur Improving Public Sector Performance dengan empat aspek utama sebagai produk inovasi di sektor publik, yaitu:
-       Aspek political leadership, diinisiasi oleh Kepala BKN tahun 2010 hingga ditetapkan penggunaannya dalam proses perekrutan CPNS oleh Wakil Presiden tahun 2014, hingga kini CAT telah digunakan dalam dua kali proses perekrutan CPNS
-       Aspek teknologi, pemanfaatan dan pengembangan teknologi untuk mereformasi sistem rekrutmen. Reformasi mental dimulai dari reformasi birokrasi yes.
-       Aspek transparasi, dalam hal ini, proses rekrutmen CPNS bisa dipantau langsung oleh masyarakat. No tipu-tipu, no manipulasi!
-       Aspek kapasitas institusi, CAT dinilai siap baik dari sisi infrastruktur dan skema mekanisme tes sebelum diaktualisasikan secara nasional dalam proses perekrutan CPNS

Keren kan ya produk inovasi Indonesia. Semoga menyusul dengan produk-produk inovasi lainnya di kancah dunia. Terakhir, saya ucapkan selamat untuk CAT BKN atas penghargaan ini.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Latest
Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
21 November 2018 15.46 delete

Kak Hacky kelihatan kayak adik dibandingkan adiknya sendiri, alias lebih muda Kak Hacky. Hehehe

Reply
avatar

Instagram @fardelynhacky