Masquerade (2012); A Man Become A King

Credit Pict
Masquerade adalah film Korea Selatan lainnya yang mengadaptasi cerita The Prince and The Pauper, setelah I Am The King. Alasan saya menonton Masquerade:

-    Ingin melihat untuk pertama kalinya akting Lee Byung-Hun. Saya belum pernah melihat aktingnya sebelumnya, baik dalam film maupun drama. Fyi, Lee Byung-Hun merupakan salah satu aktor Korea Selatan yang berkarir di Hollywood. Memang filmnya di Hollywood belum banyak–– masih lebih filmnya yang merupakan produksi Korea Selatan––tetapi belum banyak aktor Korea Selatan seperti Lee Byung Hun. Tahun ini, Lee Byung Hun mendapat peran pendukung dalam film Terminator Genysis, bersama Arnold Schwarzenegger.

-     Masquerade merupakan salah satu film Box Office Korea Selatan dengan total penonton lebih dari 10 juta penonton (di Indonesia, angka 1 juta penonton untuk satu film sudah bisa disebut luar biasa mengingat jumlah penonton film di Indonesia tidak fantastis-fantastis amat). Salah satu faktor Box Office Masquerade, kalau saya boleh menebak mungkin karena aktor utama film ini adalah Lee Byung Hun.

Sejarah Raja Gwanghae
Film ini diangkat dari fakta sejarah salah satu raja Joseon; Gwanghae.

Sampai saat saya menulis catatan ini hari ini, boleh saya bilang  mengikuti betul kisah hidup salah dua Raja Joseon; Sukjong dan Gwanghae, dalam beberapa drama dan film. Sampai saya hapal nama ratu dan selir-selirnya, dan apa yang terjadi pada mereka berdasarkan sejarahnya. Ini sesuatu yang luar biasa, kan? Hahaa… Coba ya, kalau sejak dulu kita belajar sejarah dengan cara ini, salah satunya, pasti kita bisa hapal juga sejarah bangsa kita dengan baik :D

Well, singkat saja, ya. Dinasti Joseon memiliki 26 raja, Gwanghae adalah raja ke-15. Ciri khas nama Raja Joseon adalah memiliki nama Raja (nama kuil) dengan akhiran ‘Jo’ atau ‘Jong’. Dari 26 raja, hanya ada dua raja yang tidak memiliki nama kuil, termasuk salah satunya adalah Gwanghae, lainnya adalah Raja Yeonsan (kapan-kapan saya tulis juga). Untuk Gwanghae, alasan tidak diberikannya gelar tersebut untuknya adalah (1) Gwanghae adalah anak selir dan bukan pula anak pertama, (2) karena fakta tersebut, banyak bangsawan dan para menteri menolak Gwanghae dijadikan penerus tahta, tetapi akhirnya tetap menjadi Raja karena saat raja sebelumnya meninggal, posisi Putra Mahkota ada pada Gwanghae, (3) selama 15 tahun menjadi Raja, pihak yang semula tidak setuju Gwanghae menjadi Raja, tetap saja bersikukuh bahwa Gwanghae tidak pantas menjadi Raja, hingga di tahun ke-15 kepemimpinannya, dia diturunkan oleh pihak-pihak tersebut, dan (4) bukannya dihormati sebagai bekas raja, Gwanghae malah diasingkan ke pula Jeju, dan kematiannya tanpa ditandai dengan penanda apapun, kuburan pun tidak ada. Menyedihkan memang, emngingat dia seorang raja.  Padahal, Gwanghae termasuk Raja Joseon yang pro rakyat. Ketika pertama sekali naik tahta, Gwanghae langsung mengubah sistem pajak dari yang sebelumnya dianggap tidak adil dan memberatkan rakyat kecil. Boleh dibilang, Gwanghae adalah seorang reformis, mengubah banyak sistem agar negaranya tidak terus menerus terpuruk dalam kemiskinan. Tetapi, perjuangan seperti ini biasanya memang tidak mudah. Ada saja pihak-pihak yang kurang senang jika sistem negara diubah, apalagi jika sistemnya adalah sistem pro rakyat seperti yang dicetuskan oleh Gwanghae. Pihak-pihak tersebut adalah mereka yang suka menari-nari di atas penderitaan rakyat. Mereka tidak mau jika rakyat makmur.

Merasa dekat dengan fakta tersebut? Tentu saja, karena kita menyaksikannya sendiri di negara kita sendiri. Di negeri ini, masih banyak pihak yang kurang senang jika rakyat makmur. Masih dibutuhkan reformis-reformis sejati untuk mengubah  negeri menjadi lebih baik lagi.       

Waduh, jadi serius amat nih membahas politik :D

Adapatasi cerita The Prince and The Pauper
Diangkat dari fakta sejarah, bagaimana cerita The Prince and The Pauper  (judul novel Mark Twain) diadaptasi ke dalam sejarah hidup Raja Gwanghae dan menjadi cerita fiksi? Metodenya tidak berbeda jauh dengan metode yang dipakai untuk film I Am The King, mengambil sedikit saja dari fakta sejarah sang Raja lalu dikembangkan menjadi cerita yang sama sekali berbeda jauh dengan fakta. Dalam dunia perbukuan dan perfilman, ini bukanlah sebuah dosa, selama itu adalah berupa fiksi dan bukannya buku sejarah atau film dokumenter. Makanya saya suka heran ketika film-film kita yang diangkat dari sedikit latar sajarah tetapi diprotes oleh pihak-pihak tertentu, bahkan dilarang tayang di bioskop karena dianggap tidak sesuai dengan fakta sejarah. Saya jadi bertanya-tanya, apakah selama hidup mereka tidak pernah bersinggungan dengan buku fiksi atau film?

Anyway, jika I Am The King adalah cerita pangeran yang tertukar, maka Masquerade adalah cerita pangeran yang ditukar. Dalam hal ini, kata ‘ditukar’ merujuk pada perbuatan yang disengaja. Merujuk ke sejarahnya, tentu saja tidak ada fakta bahwa Gwanghae pernah ditukar dengan seseorang yang mirip dengannya, untuk duduk di singgasana. Tetapi fakta bahwa isu Gwanghae harus diturunkan, itu benar adanya. Pada sedikit fakta inilah, cerita The Prince and The Pauper  diadaptasi. 


Ketika isu tersebut merebak, orang-orang kepercayaan raja bertindak dengan ekstra hati-hati, termasuk dalam hal memerhatikan makanan. Namun akhirnya kecolongan juga, Gwanghae diracun dan menyebabkan dia tak sadarkan diri selama dua minggu. Gwanghae sadar, dirinya sedang menjadi target pembunuhan, maka sejak awal dia memerintahkan orang kepercayaannya untuk mencari siapa saja yang mirip dengannya. Maka ketika Gwanghae tidak sadarkan diri, posisi Raja digantikan oleh seseorang yang mirip dengannya, tanpa seorang pun yang tahu kecuali kasim pribadi dan dua pengawal pribadinya. Seseorang yang mirip raja ini lalu menjadi raja pura-pura sampai raja yang sebenarnya sembuh dari pengobatan rahasia. 


Sedikit mirip dengan cerita I Am The King, Masquerade lebih menekankan pada cerita kehidupan di istana dengan raja palsunya. Tetapi satu hal yang menarik, melalui raja-raja palsu yang ditunjukkan dalam I Am The King dan Masquerade, saya bisa melihat kehidupan Raja secara lebih dekat. Dekat dalam artian yang sebenarnya. Mulai dari kegiatan bangun tidur, makan, bahkan sampai berak. Raja palsu tentu saja akan terkaget-kaget dengan segala bentuk pelayanan yang diterimanya. Dengan mendadak tinggal di istana, Gwanghae palsu menjadi tahu bahwa seorang Raja Joseon adalah pribadi yang tidak berhak memiliki privacy. Ketika tidur, para pengawal berdiri di kamarnya di segala penjuru mata angin. Ketika makan, puluhan juru masak menunduk di hadapannya. Bahkan ketika berakpun, raja dikelilingi oleh para dayang, lalu mendapat ucapan “Congratulation, His Majesty” ketika kotoran sang raja selesai dikeluarkan. Bayangkan! 

The best scene
Overall, film ini tidak mengecewakan. Lee Byung Hun sukses memainkan dua peran sekaligus dalam satu film. Di satu sisi dia bisa menunjukkan ketegasan seorang raja, di sisi lain dia menunjukkan keluguan seorang laki-laki kampung.  


Kalau kalian ingin menyaksikannya filmnya, kalian bisa menontonnya di SINI.

Sebenarnya, film ini tidak dibuat sebagai film humor. Jika melihat kover film dan premis filmnya sendiri yang dibumbui dengan intrik politik, kesannya malah jauh dari kesan lucu-lucuan. Raja Gwanghae yang menurut sejarahnya dan menurut banyak drama adalah penggambaran seorang raja yang baik hati dan baik budi pekerti, dalam film ini malah terkesan agak beringas. Mungkin tegas, tetapi saya malah menangkap kesan beringas.  Maka kehadiran Gwanghae palsu dengan segala keluguan dan kekonyolannya mencairkan semua kekakuan di istana, termasuk kekakuan hubungan Gwanghae dengan istrinya, Ratu Munseong. 

The Best Scene; bikin ngakak, hahaa...
Maka pertemuan Gwanghae palsu dengan Ratu Munseong (diperankan oleh Han Hyo Jo) untuk pertama kalinya, menjadi salah satu scene terbaik dan terlucu versi saya. Han Hyo Jo tidak mengambil begitu banyak peran di sini, tetapi dia sukses memerankan sebagai seorang ratu yang dingin dan kesepian.

Selamat menonton dan siap-siap dengan segala kekonyolan Lee Byun Hun.

Bonus: 
Han Hyo Jo dalam balutan Hanbok Ratu. 
As usual lah ya, kurang lengkap membahas film-film Asia jika belum menilik pakaian para pemain perempuannya. Aku suka hanbok ratu yang dikenakan oleh Han Hyo Jo. Dalam film ini, hanboknya dominan putih dengan bawahan yang jika bukan hitam pasti abu-abu. Terlepas dari saya suka melihatnya, hanbok ratu dalam film ini terlihat berbeda dengan hanbok ratu lainnya yang mana biasanya hanbok ratu harus memiliki emblem naga di bagian lengan dan/atau di bagian dada, tetapi di sini hanbok ratu Munseong terlihat polos saja, tanpa emblem apapun.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Previous
Next Post »

23 comments

Write comments
Pakde Cholik
AUTHOR
5 Maret 2015 16.30 delete

Film model begini pada umumnya bagus dan banyak dipetika pelajaran darinya. Penggarapannya juga serius sehingga enak ditonton.
Terima kasih resensinya
Salam hangat dari Surabaya

Reply
avatar
momtraveler
AUTHOR
5 Maret 2015 17.54 delete

Hanbook putihnya cantik bangeeett....
Aku suka klo drama korea yg kolosal gini kak klo yg abege2 gtu kurang ;)

Reply
avatar
Fee
AUTHOR
5 Maret 2015 18.14 delete

Hanbooknya keren.
Bagus ya ceritanya?
Salam...

Reply
avatar
ika koentjoro
AUTHOR
5 Maret 2015 18.25 delete

aku suka lihat film kerajaan gini. Selain ceritanya, bajunya juga bagus2

Reply
avatar
Mugniar
AUTHOR
5 Maret 2015 19.29 delete

Saya pengennya pelajaran sejarah kita dalam bentu yang fun, misalnya dalam film kayak gini atau buku. Soalnya saya dulu susah menghafal sejarah :)

Mbak Ecky bisa yang menghafal nama para tokohnya, kalo saya kayaknya sulit .... wajahnya saja kayak mirip2 *dasarbukan penggemar filmKorea* :)

Reply
avatar
ade anita
AUTHOR
6 Maret 2015 05.31 delete

Tiap kali nonton drakor aku mupeng satu hal: pingin pake hanbok lengkap dengan rias wajahnya.

Ah...cari ah film ini. Penasaran mo nonton.

Reply
avatar
fajr muchtar
AUTHOR
6 Maret 2015 07.55 delete

teman-teman... saya lagi buat GA buat meramaikan "rumah baru" saya... ikutan yuuk http://fxmuchtar.com/giveaway-pindahan-rumah/

Reply
avatar
Efi Fitriyyah
AUTHOR
6 Maret 2015 22.48 delete

Meski ga suka nonton Korea, hanboknya keren-keren. Ga nolak deh kalau dikasih, hehehe... Eh btw aku suka tampilan anyar blogmu, mak. Manglingi, dan keren.

Reply
avatar
8 Maret 2015 16.56 delete

Iya Pakdhe, minimal pembelajarannya adalah setidaknya tau sedikit sejarahnya, meski filmnya bukan menceritakan sejarah hidup sang raja secara fakta
Terima kasih sudah mampir pakdhe :D

Reply
avatar
8 Maret 2015 16.57 delete

Iya kak, aku pengen punya hanbok kayak gitu. cocok gitu kalo dipakai sama cewek berjilbab kayak kita ini :D

Reply
avatar
8 Maret 2015 16.58 delete

Kalo menurut aku bagus mbak, setidaknya aku menikmatinya lah :D

Reply
avatar
8 Maret 2015 16.58 delete

Toss kalo gitu mb Ika :D

Reply
avatar
8 Maret 2015 17.00 delete

Mbak Niar, dulu, pelajaran Sejarah waktu sekolah juga saya lupa mbak, abis disuruh menghapal, jadi cepat lupanya, xixixii... aku pikir, dengan metode film, selain lebih fun, mungkinjuga bisa bertahan lama di ingatan karena kesan yang ditinggalkan. Mungkin
Saya nama-nama Korea nggak hapal juga mbak, saya taunya yang filmnya saya pernah nonton aja, xixixiii

Reply
avatar
8 Maret 2015 17.01 delete

Entu mbak Ade, bisa nonton di link yang saya kasih dalam tulisan ini :D

Reply
avatar
8 Maret 2015 17.02 delete

Makasiiiiih mak. Iya nih, aku baru ganti template ni, doain aku ada rejeki buat ganti template ya mak, biar keren kayak blogmu mak :D

Reply
avatar
Zulfa
AUTHOR
9 Maret 2015 09.42 delete

Seneng kalau unsur sejarah gii. Sekalian belajar. Para Raja Dahulu itu memang tangguh tangguh, kayak kagak kenal takut. Jarang banget lihat film Asia. Baca postingan ini jadi pingin nonton :)

Reply
avatar
9 Maret 2015 22.14 delete

Yuk mbak ditonton. Ini filmnya nggak berat, malah ada unsur humornya mbak. Jadi cerita sejarang dibalut dengan teknik bercerita yang nggak berat :D

Reply
avatar
28 Maret 2016 15.19 delete

film salman yang baru, prem ratan dhan payo juga premisnya mirip gwanghae ini, mbak. cuma dia diadaptasi dari novel yang lain.

Reply
avatar
7 Juli 2016 13.35 delete

Masukin youtube dong mbak. Nyari dvd nya susah. Asli pngn nonton aplg ratu nya selir dongyi

Reply
avatar
7 Juli 2016 13.36 delete

Masukin youtube dong mbak. Nyari dvd nya susah. Asli pngn nonton aplg ratu nya selir dongyi

Reply
avatar
7 Juli 2016 13.37 delete

Cinta bnget sama joseon . Aplg sm drma saeguk korea. Langusung buka google berpuluh ribu kali

Reply
avatar
7 Juli 2016 13.37 delete

Cinta bnget sama joseon . Aplg sm drma saeguk korea. Langusung buka google berpuluh ribu kali

Reply
avatar

My Instgram