Honey, Oh, Hani [Gado-Gado Femina, No. 29/2013]


Di bawah ini adalah tulisan versi asli dari saya. Untuk versi yang udah diedit dan dimuat di Femina, hasilnya tak jauh berbeda dari asli, pihak Femina hanya menyunting sedikit kata, mengganti kata 'Perempuan' menjadi 'wanita' dan mengganti 'aku' dengan 'saya'




Honey oh Hani
Oleh: Fardelyn Hacky

Ketika baru menikah, sebagaimana umumnya perempuan Aceh memanggil suaminya dengan sebutan ‘Abang’, demikian juga halnya denganku. Meski aku sudah mengenalnya sebelum kami menikah, namun sebelumnya aku tak pernah memanggilnya dengan sebutan ‘Abang’. Untuk hal ini, kami berdua tidak perlu kompromi lagi.
Tapi tidak begitu halnya dengan panggilan suamiku untukku. Sebagaimana juga umumnya panggilan suami untuk istrinya seperti ‘dek’ atau ‘adek’, aku justru tidak mau dipanggil dengan sebutan itu. Menurutku, kok seperti panggilan seorang abang terhadap adiknya. Aku kan bukan adikmu, bang, begitu alasanku sama suamiku. Selain itu, aku menginginkan panggilan yang beda dengan panggilan suami-suami pada umumnya untuk istrinya.
Jika ada yang protes karena anggapan panggilan ‘adik’ untuk istri aku anggap seperti panggilan abang terhadap adiknya, lantas kenapa juga aku memanggil suamiku dengan sebutan ‘Abang’? Bukankah hal yang sama juga berlaku jika aku memanggilnya dengan sebutan tersebut?
Menurutku, ini menurutku lho ya, panggilan ‘Abang’ adalah panggilan umum, baik adik terhadap abangnya, panggilan orang yang lebih muda terhadap yang lebih tua, atau panggilan penghormatan istri terhadap suaminya. Nah, untuk yang terakhir ini, sejak dahulu perempuan Aceh yang baru menikah akan memanggil suaminya dengan sebutan ‘Abang’ meskipun  usia si istri lebih tua dari suami, misalnya.
Nah, untuk panggilan suamiku untukku ini, maka berkompromilah kami.
“Panggil ‘sayang’ aja ya, Bang!” usulku. 
“Ah, Abang gak mau panggil ‘sayang’, malu didengar orang. Apalagi kalau nanti kita pulang kampung. Malu ah, didengar sama Ayah, Mamak, dan orang-orang tua di kampung. Nanti dikira sok pamer. Trus nanti dibilangin, mentang-mentang pengantin baru, sayang-sayangan.”
Akhirnya, kami memutuskan aku dipanggil ‘honey’ saja oleh suamiku. Aku menyetujui panggilan ini, terdengar manis dan romantis. Suamiku bukan tipe laki-laki romantis. Jadi cukuplah buatku panggilannya saja yang terdengar romantis, hehe... Nah, untuk yang ini, baru deh suamiku setuju. Alasannya, meski panggilan tersebut artinya juga ‘sayang’, tapi karena menggunakan bahasa yang berbeda, tak terlalu tampak kesan pamernya.
“Buat orang-orang yang tak begitu bagus nilai bahasa inggrisnya, pasti tak akan mengira abang manggil sayang,” begitu kira-kira kesimpulan kami. Maksudnya, ini untuk orang-orang tua di kampung ya, bukan anak muda jaman sekarang.  
Begitulah, sampai saat ini, di empat tahun usia pernikahan kami, suamiku masih memanggilku dengan sebutan ‘honey’.
***
Adalah Upo Miah, saudara jauh suamiku, yang sama-sama tinggal di Banda Aceh. Upo atau sering juga disingkat Po adalah panggilan untuk kakak yang digunakan di sebagian daerah di Aceh Selatan.
Ketika pertama kali aku dibawa ke rumah Po Miah, memperkenalkan aku sebagai istrinya ke keluarga saudaranya tersebut, suamiku tidak menyebutkan namaku ke keluarga Po Miah. Perkenalan tersebut hanya membawa aku ke rumah Po Miah tapi tidak menyebut namaku. Mungkin karena masih pengantin baru, suamiku masih malu-malu menyebutkan segala hal tentang aku kepada orang lain. Atau dia lupa? Entahlah. Aku pun tidak menanyakan.
Rumah Po Miah termasuk rumah yang paling sering kami kunjungi dibandingkan dengan saudara-saudara suamiku yang lain. Pada kunjungan kami yang pertama tersebut sampai pada kunjungan-kunjungan berikutnya, Po Miah selalu memanggilku dengan sebutan “Hani’, lebih sering ‘Ni’ saja. Karena keterusan aku dipanggil ‘Ni’, suami, anak-anak serta mertua Po Miah ikut-ikutan memaanggil ‘Ni’ padaku. Aku dan suamiku heran, kenapa dia memanggilku ‘Hani’, ya?
Setelah aku menjadi akrab dengan Po Miah, berkatalah aku pada Po Miah,  Po, namaku bukan Hani hai Po, tapi Hacky.”
“Lho, namamu bukan Hani? Tapi aku dengar si Salmi (nama suamiku) manggil kamu ‘Hani’?
Lepaslah tawaku siang itu di depan Po Miah. Ooohhh...rupanya karena panggilan ‘honey’ oleh suamiku. Lalu kujelaskan yang sebenarnya pada Po Miah, sambil malu-malu.**
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Previous
Next Post »

17 comments

Write comments
23 Juli 2013 11.33 delete

hehe lucu jadi ngetop dengan panggilan hani :D salam kenal mbak

Reply
avatar
Imam Boll
AUTHOR
23 Juli 2013 13.14 delete

salam kenal ya mbak

budhe saya juga ada yg namanya hani mbak :D

Reply
avatar
Lusi
AUTHOR
23 Juli 2013 20.42 delete

Okey hani eh honey heheheee

Reply
avatar
23 Juli 2013 21.42 delete

baiklah Mbak Hani.. eh Hacky, panggil hani aja boleh??

Reply
avatar
23 Juli 2013 23.33 delete

HOneyyyyyyy i luv you :D

Reply
avatar
Khaira Hisan
AUTHOR
24 Juli 2013 13.52 delete

Whehe... jadi nama baru ya kak, Fardelyn 'Hani' Irawani :)

Reply
avatar
RedCarra
AUTHOR
24 Juli 2013 14.44 delete

hihihihi... lucu ini :)))))

Reply
avatar
Lia Javier
AUTHOR
24 Juli 2013 19.17 delete

Kalau semuanya jadi panggil "Hani" gak romantis lagi dong ya.Hahaha...Harus cepat2 diluruskan itu, kak :P

Reply
avatar
25 Juli 2013 05.26 delete

Well, so Honey Not HANI, just make clear mbaa, top be ge te deh :) congrat udah nembus Femina yaa ;)

Reply
avatar
25 Juli 2013 08.43 delete

haha.

Untungnya bukan orang sekampung yang memanggil "Hani", Mak.

Reply
avatar
Icoel
AUTHOR
25 Juli 2013 10.35 delete

Hahaha...okelah Hany :P

Reply
avatar
25 Juli 2013 23.05 delete

aihhh mesti potong kambing dulu tuh klo ganti nama :D

Reply
avatar
Lisa Tjut Ali
AUTHOR
26 Juli 2013 23.31 delete

selamat mak eki ya, asyik nie dapat honor banyak
pingin juga kirim ke femina

Reply
avatar
fardelynhacky
AUTHOR
27 Juli 2013 10.53 delete

All: makasiiiiih semuanya, udah berkunjung ke mari yak. Ayo semua pada ngirim-ngirim :D
btw, gak di mari, gak di fb, kok jadi malah dipanggil 'Hani' yak eike, wkwkwkk

Reply
avatar
Vanda Arie
AUTHOR
28 Juli 2013 04.57 delete

Aihh... Hani keren deh :D gado2nya syedap mb :)

Reply
avatar
isti thoriqi
AUTHOR
26 Agustus 2013 10.51 delete

Ceritanya lucu, mba :))

Reply
avatar
fardelynhacky
AUTHOR
26 Agustus 2013 22.25 delete

makasih mbak Vanda dan mbak Isti ;)

Reply
avatar

My Instgram