Jangan Simpan Tulisanmu di Bawah Meja




Ketika saya terlibat bincang-bincang ringan dengan seorang senior saya pada sebuah seminar, kami sempat menyinggung-nyinggung tentang bagaimana perkembangan kepenulisan khususnya teman-teman kami satu organisasi kepenulisan.  Saya menyebutnya senior karena beliau memang sudah lama malang melintang dalam bidang kepenulisan. Saya tahu namanya ketika membaca artikel-artikel beliau yang dimuat di sebuah media lokal yang cukup terkenal di Aceh. Lalu berlanjut mengenalnya lebih jauh ketika kami sama-sama terlibat dalam sebuah organisasi kepenulisan. Saya belajar banyak darinya. Makanya saya menyebut dia ’senior’. Barangkali senior saya ini tidak terlalu ’senior  di mata sebagian orang. Dia tidak seproduktif penulis-penulis lain yang tulisannya terus saja ’berhamburan’ di berbagai media, baik media massa maupun elektronik. Tapi saya banyak yang belajar darinya.
Sembari menunggu waktu seminar dimulai, seperti biasa kami berbicara tentang banyak hal. Seperti teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Senior saya itu menyampaikan sebuah kabar: suaminya yang juga penulis seperti halnya beliau baru saja memenangkan juara harapan dua lomba. Saya kaget. Kekagetan saya bukan tanpa alasan. Sebelumnya suaminya baru saja menjuarai Lomba Menulis Cerpen  tingkat nasional, mendapat juara tiga. Sebelumnya lagi, beliau jadi juara (ini saya tak ingat juara berapa) pada lomba novel Anak yang diadakan oleh sebuah lembaga di Aceh. Kalau dihitung-hitung, dalam setahun itu, suami senior saya itu sudah tiga kali menjadi juara lomba menulis. Sebuah prestasi yang luar biasa.
Sejak suami senior saya itu  ’didaulat’ menjadi dewan penasehat organisasi kepenulisan yang saya dan senior saya terlibat di dalamnya, sepertinya prestasi beliau dalam dunia kepenulisan, semakin berjaya saja. Tak tahu, apakah ini ada hubungannya dengan diangkatnya beliau menjadi penasehat atau menjadi suami senior saya, ataukah memang keberuntungan sedang berpihak pada beliau. Lalu entah sengaja atau tidak, kemudian suami senior saya itu mendapat julukan ’penulis sayembara’ oleh teman-teman saya di organisasi tersebut. Beliau mengaku pernah mengirimkan karya-karya ke media nasional, tapi entah kenapa nasib belum berpihak kepadanya.
Lalu saya teringat pada seorang  teman saya yang juga penulis. Teman saya ini gencar sekali ’menyerang’ media, baik lokal maupun nasional. Setiap kali dia menyelesaikan satu tulisan, dia pasti akan langsung mengirimkannya ke media yang sesuai dengan jenis tulisannya. Dia pernah mengalami berpuluh kali penolakan. Tapi dia tak pernah menyerah. Karna baginya berpuluh kali penolakan itu masih terlalu sedikit. Kini coba sebut namanya, orang pasti akan akan langsung mengindentikkannya dengan cerpenis Aceh yang handal. Cerpen-cerpennya kerap menghiasi rubrik budaya berbagai media yang dulu menolak tulisan-tulisannya. Saya yakin bukan karena kasihan redaktur melihatnya mengalami penolakan sehingga kemudian dimuatlah karya-nya  tapi memang karena kualitas karyanya yang semakin hari semakin bagus saja. Memang menulis adalah passion-nya, jadi yang namanya penolakan buatnya sudah seperti makanan sehari-hari.
Apa yang berbeda dari dua orang kenalan saya tersebut?
Kenalan saya yang pertama, sangat sering memenangkan perlombaan. Memang beliau jarang mengikuti kompetisi tapi begitu ikut, karyanya selalu menang. Beliau mungkin tidak se-terkenal kenalan saya yang kedua. Sebut saja nama beliau di kalangan cerpenis dan sastrawan angkatan tua di Aceh, rata-rata mereka akan mengernyitkan dahi atau menggelengkan kepala. Yeah...kenalan saya yang pertama ini jarang nongol di media. Pernah dua kali tulisannya dimuat di media, itu pun media khusus yang cakupannya pun cuma untuk kalangan tertentu saja, bukan media daerah yang menyebar di seluruh Aceh, apalagi media nasional. Dari penuturannya, bukan tidak pernah beliau mengirimkan karyanya ke media yang lebih besar; media lokal yang jangkauannya untuk satu propinsi dan media nasional, tapi ya itu, tulisannya tidak pernah dimuat.
Lain lagi dengan kenalan saya yang kedua. Setelah jatuh bangun ditolak terus oleh media nasional, sekarang dia sudah dikenal sebagai salah satu cerpenis nasional, meskipun jika dibandingkan dengan cerpenis nasional lainnya, namanya mungkin masih kalah membahana. Namun kebalikan dari kenalan saya yang pertama, dia justru tidak pernah memenangkan lomba. Dia bukan tidak pernah ikut kompetisi menulis. Sebagaimana dia begitu rajinnya mengirim tulisan ke media, dia juga begitu rajin mengikuti kompetisi. Tapi, apalah daya, dia belum pernah menang.
Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari dua kasus di atas?
Bahwa sebuah tulisan memiliki takdirnya masing-masing. Apakah dia akan menuju ke meja redaktur sebuah media atau menuju meja dewan juri sebuah lomba. Yang penting jangan pernah simpan tulisanmu di bawah meja. Biarkan dia berkelana menemukan takdirnya.
Keep writing ;)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Previous
Next Post »

My Instgram